agian-bagian peralatan ilmiah di permukaan bulan tidak benar-benar paralel? tidak masuk akal!!
2. Jika ada cukup banyak angin di studio film,sehingga bendera berkibar , angin itu juga pasti menggerakkan debudebu
di kaki mereka.
3. Untuk bisa berkibar, bendera tidak selalu membutuhkan angin. Setidaknya di ruang angkasa hal inilah yang terjadi.
Pada kondisi di Bulan, bendera dipancangkan bukan hanya pada tiang vertikal, tapi terdapat juga tiang horizontal yang
ditambahkan di bagian atas bendera, sehingga bendera tersebut tampak tergantung dan merentang. Selain itu
permukaan Bulan yang keras mempersulit pemancangan tiang bendera, sehingga para astronot harus memutar tiang
tersebut maju mundur agar bisa ditanamkan di tanah bulan. Akibat gerakan ini, bendera tersebut berkibar, atau yang
sebenarnya
lebih tepat jika disebut bergetar. Di Bumi kibaran bendera terjadi
beberapa detik dan diperlambat oleh udara, tapi kondisi vakum di Bulan
menyebabkan gerakan bendera tersebut tidak akan berhenti karena tidak
ada gaya dari luar yang menghentikannya.
Sesungguhnya, bendera yg berkibar itu justru membuktikan bahwa para astronot
memang berada di Bulan. Bendera itu bergoyang karena baru saja dipasang. Dan terus bergoyang selama beberapa
waktu
dengan cara yang tidak biasa karena gravitasi Bulan 1/6 gravitasi Bumi,
dan karena tidak ada udara di bulan untuk segera menghentikan gerakan
bendera.
Point 4. Mana Kawahnya?

X : Pada foto yang lain, tidak tampak adanya
lubang
bekas semburan roket (kawah) pada lokasi pendaratan. Untuk roket
seukuran Apollo seharusnya semburannya dapat menimbulkan lubang yang
besar pada permukaan Bulan. Jadi, bagaimana bisa roket mendarat mulus
tanpa membekaskan jejak besar?
Y : Untuk melakukan sebuah pendaratan tentu tidak dilakukan dengan kecepatan tinggi tapi
dengan
kecepatan yang diperlambat. Tidak ada satu orangpun yang memarkirkan
mobilnya dengan kecepatan 100 km/jam. Hal yang sama berlaku juga pada
Apollo 11. Semburan roket memiliki dorongan 5000 kg, tetapi roket
tersebut diperlambat sampai sekitar 1500 kg saat mendekati permukaan.
Dengan diameter pipa pengeluaran roket sebesar 54 inci (dari
Ensiklopedia Astronautica), dan ukuran roket sekitar 2300 inci persegi,
semburan roket hanya menimbulkan tekanan sekitar 0.75 kg /inci persegi.
Tekanan sebesar ini tidak akan sampai menimbulkan jejak lubang yang
besar.
Hasil foto-foto yang diambil di Bulan juga memperlihatkan adanya
bayangan yang kurang gelap. Obyek yang seharusnya gelap karena berada
dalam daerah bayangan, tetapi dalam foto dapat jelas terlihat, termasuk
tulisan di sisi pesawat. Jiika Matahari merupakan satu-satunya sumber
cahaya, dan tidak ada udara yang dapat menghamburkan cahaya, seharusnya
bayangan yang terjadi sangat gelap. Sebuah persepsi yang salah. Memang
ini bukan di Bumi dan cahaya Matahari tidak dapat dihamburkan dalam
kondisi hampa udara. Tapi di Bulan masih ada sumber cahaya lain yang
berasal dari Bulan sendiri. Debu di Bulan memiliki sifat yang khas:
yaitu memantulkan kembali cahaya ke arah sumber cahaya berasal.
Point 5. Transmisi suara tidak ada jedanya sama sekali?
X : Transmisi suara dari bulan ke bumi
kok gak ada jedanya sama sekali, padahal mustinya kira-kira 5 detik, baru samapi ke bumi?

Y : Transmisi audionya sebenarnya ada jedany. Antara suara dari bulan
dan
konfirmasi dari bumi tidak ada jeda. Itu jelas karena transkrip
tersebut dicatat dari bumi. Contohnya pada potongan transkrip berikut :
1.102:41:12 Duke: Eagle, you’ve got 30 seconds to P64
2.102:41:19 Aldrin: Roger. (Pause)
3.102:41:27 Duke: Eagle, Houston. Coming up 8:30; you’re looking great. (Pause)
4.102:41:35 Armstrong: (Garbled) 64.
5.102:41:37 Duke: We copy. (Long Pause)
Coba liat antara line 1 dan 2, ada 7 detik berlalu setelah mission
control (Duke) memberikan informasi sampai terdengar konfirmasi dari
Aldrin, waktu yang lebih dari cukup untuk gelombang elektromagnetik
merambat ke bulan dan kembali lagi ke bumi. (jarak bumi ke bulan sekitar
360 ribu km, kecepatan cahaya sekitar 300 ribu km/s bolak balik cukup
sekitar 2,4 detik saja)
Tapi coba perhatikan hanya ada 2 detik berlalu setelah informasi dari
Armstrong dan konfirmasi dari mission control waktu yang juga lebih dari
cukup untuk gelombang suara merambat dari speaker mission control ke
telinga Duke lalu merambat dari mulut Duke ke mic dihadapannya.
Point 6. Masalah sabuk Radiasi Van Allen (Van Allen Belts)
X
: Untuk mencapai bulan , astronot harus melewati Sabuk Radiasi Van
Allen, yang bisa meghasilkan jumlah radiasi cukup fatal, bagaimana
mungkin mereka dapat selamat?
Y : Radiasi adalah hal yang tidak terlalu diperhatikan NASA sebelum penerbangan pertama, namun mereka
memenginvestasikan
jumlah yang cukup besar untuk penelitian ini dan menentukan bahwa
resikonya minimal. Apollo memerlukan satu jam untuk melewati sabuk
radiasi untuk berangkat dan kembali lagi. Total radiasi yang diterima
astronot sekitar satu rem. Orang akan mengalami kesakitan pada radiasi
100-200 rem, dan kematian pada radiasi 300+ rem. Jelas dosisnya memiliki
rentang yang sangat jauh untuk dianggap beresiko.
Point 7. Tidak akan pernah ada foto yang berhasil diambil?
X
: Tidak akan ada foto yang bisa diambil di bulan, sebab film akan meleleh pada suhu 250°F.
Y : Film yang biasa akan segera
meleleh jika di ekspos pada suhu 250°F, bagaimanapun film yang digunakan
bukan film biasa, dan tidak pernah diekspos pada temperatur sekian.
Astronot Apollo menggunakan film tranparansi khusus yang didisain
spesifik, di bawah kontrak NASA, untuk lingkungan yang tidak ramah misal
di Bulan. Menurut Kodak, film akan mulai melemah pada 200°F, dan tidak
akan meleleh sampai pada suhu 500°F. Kamera juga diproteksi didalam
casing spesial yang didisain agar tetap dingin. Situasi di Bulan yg
hampa udara sangat berbeda dengan misal di dalam oven. Tanpa konveksi
dan konduksi, metode yang mungkin untuk transfer panas hanyalah radiasi.
Panas radiaktif bisa dialihkan secara efektif dengan membungkus
material menggunakan permukaan reflektif, biasanya material putih.
Casing dari kamera sama juga seperti seragam astronot,putih.
Sebenarnya,masih banyak lagi
pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan dari pihak Skeptic , namun karena
aku rasa terlalu banyak, maka pertanyaan2 yang paling sering
ditanyakanlah yang ku ulas.
Namun, ada suatu bukti yang
tidak dapat dibantah bahwa manusia benar-benar pernah pergi ke Bulan,
yaitu batu-batu bulan yang dibawa dengan berat total 382 Kg, yg telah
diperiksa oleh ratusan ahli geologi dari seluruh dunia.

Batuan
Bulan yang berhasil dibawa para awak Apollo Batuan-batuan ini memiliki
karakteristik yang sama dengan batuan bulan yg ditemukan di pesawat
ruang angkasa Rusia tanpa awak. Yang perlu diketahui bahwa batuan bulan
itu sangat aneh,diantaranya :
1. Karena hanya mengandung sedikit air
2.
(lihat gambar ke-2 batu bulan ) Karena sering terkena sinar kosmis
selama jutaan tahun di permukaan bulan yang hampa udara,maka
terbentuklah lubang-lubang aneh dipermukaannya.
3.
Batuan bulan sangat berbeda dengan batuan bumi, dan tidak dapat
dipalsukan denganteknologi terbaru apapun. Untuk menghasilkan batuan
bulan palsu , setidaknya kita harus melumatkannya dengan tekanan 1.000
atmosfer dan memanasinya dengan suhu 1.100 derajat celcius selama
beberapa tahun. Kemudian, selagi tetap berada dalam tekanan, dinginkan
perlahan selama beberapa tahun lagi. Betapa konyolnya NASA jika harus
bersusah payah melakukan hal ini semua, betul tidak tidak?
Seharusnya, kita semua tidak sepantasnya
terpengaruh pada berita yg
hanya secara sepihak menyoroti perjalanan Neil Armstrong dan Buzz Aldrin
dalam menjadi misi pertama ke bulan.
Padahal ada beberapa misi yg sudah berhasil mendarat di bulan setelah Armostrong dan Aldrin.
Orang terakhir yg berjalan ke bulan adalah Gene Cernan yg melakukan misi bersama astronot Jack Schmitt, 7 – 19 Desember 1972.
Ada 6 misi Apollo yg sukses mendarat di Bulan antara 1969 – 1972.
Apollo 11
Astronot: Neill Armstrong, Buzz Aldrin & Michael Collins, 20 – 24 Juli 1969
Apollo 12
Astronot: Alan L.Bean, Pete Conrad Jr, Richard Gordon Jr, 14 – 24 November 1969
Apollo 14
Astronot: Edgar Mitchell, Stuart Roosa, Alan B. Sheperd, 31 Jan – 9 Feb 1971
Apollo 16
Astronot: Charles M. Duke Jr, Thomas K. Mattingly II, James W. Young, 16 – 27 April 1972
Apollo 17
Astronot: Eugene Cernan, Ronald B. Evans, Harrison H. Schmitt, 7 – 19 Desember 1972
Seandainya pendaratan tersebut memang palsu, apakah NASA begitu ceroboh
sehingga meninggalkan banyak bukti untuk diungkapkan? Jika bayangan yang
muncul di foto salah, mengapa tidak satupun personel NASA yang
menyadarinya? Dan juga, kalau AS memalsukan pendaratan di bulan maka Uni
Soviet dengan senang hati mempermalukan rivalnya dengan membongkar
kebohongan-kebohongan yang telah mereka perbuat, tapi kenyataannya
tidak, bahkan Uni Soviet sendiri hingga sekarang tidak membantah mereka
dikalahkan AS dalam perlombaan mendarat di bulan.
Jika dipikir-pikir lagi, NASA telah berulang kali mendaratkan beberapa
wahana luar angkasanya seperti misi tanpa awak Probe-nya hingga ke
Jupiter dan Spirit-nya ke Mars, jika hanya mendaratkan manusia ke bulan
yang jaraknya lebih dekat dari Bumi sepertinya sangatlah mungkin mereka
lakukan. Seperti yang saya katakan di paragraf pertama artikel
ini,pengiriman manusia ke planet lain, mungkin ke-Mars sepertinya
tinggal menunggu waktu saja.
Satu lagi yang harus menjadi bahan renungan kita semua, jika kita tetap
meyakini teori konspirasi, sama saja kita tidak menghargai hasil kerja
keras jejaring global yang talah melibatkan 400.000 ilmuwan, ahli mesin,
pegawai, pengacara, akuntan, teknisi dan petugas perpustakaan yang
membantu mewujudkan proyek monumental ini.
Tambahan:
Pada Point 6 diatas sedikit menyinggung sedikit
tetang Sabuk Radiasi Van Allen. Bagi teman-teman yang belum tahu apa itu Van Allen Belts,berikut adalahpenjelasannya :
Sabuk Radiasi Van Allen (Van Allen Belts),
adalah dua buah sabuk radiasi (atau juga sering dianggap sebagai sebuah
sabuk tunggal dengan intensitas bervariasi) yang menggantung pada
ketinggian 3000 dan 35.000 km diatas atmosfir Bumi. Keberadaan sabuk ini
pertama kali terdeteksi oleh satelit Explorer 1. Satelit yang
diluncurkan pada 31 Januari 1958 ini adalah satelit pertama yang
berhasil diluncurkan ke orbit oleh Amerika Serikat.
Sabuk ini dinamai menurut nama James A. Van Allen, seorang ahli
astrofisika berkebangsaan Amerika yang pertama kali memprediksi
keberadaan sabuk ini setelah melakukan interpretasi atas data yang
dikirimkan oleh Explorer. Daerah dimana sabuk radiasi ini berada disebut
sebagai magnetosfir untuk membedakannya dengan lapisan atmosfir.
Partikel pada sabuk radiasi ini berputar sepanjang jalur magnetik Bumi
yang membentang diatas katulistiwa ke kutub utara hingga kutub selatan
untuk kemudian kembali ke atas garis katulistiwa. Lontaran partikel dari
matahari yang terperangkap oleh sabuk radiasi ini inilah yang
bertanggung jawab terhadap terjadinya aurora, khususnya aurora borealis
(aurora yang terjadi di kutub utara). Sabuk radiasi Van Allen juga
berfungsi sebagai semacam tameng pelindung yang mencegah radiasi yang
berbahaya agar tidak sampai mencapai Bumi.